in

Bule Belarusia Lulus Uji SIM di Bekasi Setelah 2 Kali Gagal

Iosif Siarhei (44) senang karena akhirnya bisa mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) setelah dua kali gagal ujian. Bagaimana akhirnya WN Belarusia itu bisa mendapatkan SIM A dan SIM C tersebut?

“Ini pertama kalinya, saya kira ini sangat simpel,” kata Siarhei saat ditemui detikcom di rumahnya di Jalan Mustika, Rawalumbu, Kota Bekasi, Kamis (13/9/2018).

Menurut Siarhei, tes teori dan praktik yang dijalaninya itu tidaklah terlalu sulit. Bila dibandingkan dengan di negaranya, ujian SIM di Indonesia lebih mudah.

“Saya kira tidak begitu susah, karena di negara saya harus melalui tes yang serius. Harus naik, turun, berbelok, lalu harus bisa parkir horizontal, banyak sekali peraturannya,” kata pria yang mengajar les piano ini.

Siarhei sudah dua kali mengikuti ujian SIM sebelumnya tapi gagal saat praktik. Aturan kaki yang tidak boleh menapak ke aspal saat membawa motor ketika berbelok dan membuat angka ‘8’-lah yang membuatnya gagal.

“Ketika saya sudah menyelesaikan tes teori, saya lalu tes praktik dan saya gagal. Gagal karena saya rasa terlalu sulit untuk tidak menapak kaki. Di negara saya tidak apa-apa (menapak kaki), tapi petugas bilang ke saya, ‘Hei kamu tidak boleh menapak kaki,'” lanjutnya.

Sementara itu, untuk tes teori, Siarhei mendapatkan skor yang cukup tinggi. Karena bahasa Indonesia yang belum terlalu fasih, Siarhei dipandu penerjemah ketika mengerjakan tes teori.

“(Saya mendapatkan) 80 skor untuk pengetahuan berkendara sepeda motor, 90 untuk mobil,” katanya sambil tersenyum.

Latihan Gratis

Setelah dua kali gagal dalam ujian praktik, Siarhei tidak putus asa. Dia kemudian mencoba mengikuti latihan yang diberikan secara gratis di Polres Metro Bekasi Kota.

Siarhei menjalani latihan di Polres Metro Bekasi Kota pada Minggu (9/9) lalu. Dia kemudian kembali ikut tes praktik pada Kamis (13/9) siang tadi.

“Saya sangat mencintai guru (petugas yang melatih) saya, translator saya. Dia menunjukkan cara bagaimana menggunakan bahumu untuk berbelok, dia mengajariku saat hari Minggu pagi,” lanjutnya.

Bukan hanya Siarhei yang ikut latihan gratis. Sejumlah warga Bekasi yang ingin lulus SIM juga ikut latihan gratis.

“Saya datang kesana (polres) dan banyak orang menginginkan latihan juga,” ucapnya.

Aksinya saat mengikuti latihan itu menjadi pusat perhatian warga. Sejumlah warga, menurutnya, melihatnya seperti sebuah keanehan.

“Banyak juga orang Indonesia yang melihat saya latihan. Orang-orang Indonesia (mungkin) melihat saya seperti ‘melihat hewan di kebun binatang, binatang apa ini, gajah atau harimau?’ ha-ha-ha…,” selorohnya.

Siarhei sempat merasa malu ketika ditonton warga. Dia juga cukup kagum akan ‘kelincahan’ warga Bekasi dalam berkendara.

“Mereka sangat tertarik dengan orang luar negeri, saya kan jadi malu. Saya malu di sini, karena Indonesia adalah negara yang hebat, orang-orang di sini juga pintar-pintar,” tuturnya.

Bayar Normal

Siarhei mendapatkan SIM tanpa menyogok lewat calo. Dia juga membayar biaya administrasi untuk pembuatan SIM dengan harga normal.

“Sangat murah, saya membayar sendiri kira-kira Rp 250 ribu. Mereka tidak men-charge saya lagi (pada ujian ketiga), gratis. Saya katakan ‘apakah saya harus membayar lagi?’ ‘no!,” katanya.

Siarhei juga tidak dikenai biaya untuk latihan.

“Haruskah saya membayar untuk latihan? Dia (petugas) bilang tidak, free. Karena saya harus membayar untuk latihan di negara saya. Normalnya, (di Belarusia) kita harus membayar untuk sekolah (kursus mengemudi), untuk mendapatkan SIM di negara saya mereka mengajarkan kita teori setiap minggu 3 kali lalu latihan praktik setiap minggunya,” jelasnya.

“(Di Belarusia) kami harus membayar uang untuk 3 bulan, teori and praktik, termasuk guru. Teorinya (belajar) di gedung, praktiknya di lapangan. Kalau di negara saya, petugas SIM hanya bilang ‘go!‘ ya saya bingung mau melakukan apa, ya hanya ‘go’ saja,” tutupnya.

 

Sumber: Detik

Bagikan

Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Komentar

komentar