in ,

Cerita Petualangan anakku berakhir di Rinjani

Muhammad Ainul Takzim (26) seorang pendaki gunung asal Makassar menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (30/7).

Dia tewas terkena hantaman batu di bagian kepalanya saat mendaki Gunung Rinjani bersama belasan rekannya sesama pendaki dari Makassar. Mereka berangkat sejak Rabu (25/7).

Ainul adalah alumni Akademi Perawat Yayasan Pendidikan Makassar. Dia lulus empat tahun silam. Sejak masih duduk di bangku SMA, putra keempat dari enam bersaudara dari pasangan Haji Amrullah (59) dan Hajjah Farida (52) sudah hobi mendaki gunung dan jalan-jalan ke pulau.

Ainul memang suka berpetualang di alam. Kata Haji Amrullah ayahnya, kalau bukan ke gunung, dia main ke pulau seperti Pulau Kapoposang, Makassar bersama teman-temannya. Anak ini memang luas pergaulannya.

Hampir semua gunung di Sulsel sudah berkali-kali didakinya seperti gunung Bawakaraeng, Lompobattang dan Bulusaraung. Dia kemudian mau taklukkan semua gunung di Jawa.

Namun, takdir berkata lain. Petualangan anak kebanggaannya ini berakhir di Gunung Rinjani yang merupakan gunung tertinggi ketiga di tanah air.

“Tersisa gunung Bromo, Semeru dan Rinjani. Tapi ternyata petualangan anakku berakhir di Rinjani,” ujar pensiunan Dinas Kehutanan Provinsi Sulsel ini yang juga ketua ORW 4, ORT 13, Kelurahan Laikang, Kecamatan Biring Kanaya saat ditemui di rumahnya, perumahan Bumi Sudiang Raya, Blok J 14, Senin, (30/7).

Lebih jauh, Haji Amrullah bercerita, Ainul sempat magang di beberapa rumah sakit namun tidak sreg dengan pekerjaannya itu dan beralih kerja sebagai kontraktor mengikuti jejak kakaknya.

Dia lantas bercerita ingin menikahkan anaknya itu usai bulan Ramadan tahun ini. Namun anaknya menolak karena ingin terlebih dahulu menaklukkan Gunung Rinjani dan Gunung Semeru.

“Saya buatkan CV, tapi saat ini dia sepi proyek jadi ikut dengan kakaknya sebagai pengawas proyek di Bulukumba, Enrekang dan Toraja. Ada lagi proyek di Buol, Toli-Toli tapi masih menunggu pekerjaan jadi dia minta izin untuk mendaki. Awalnya saya mau nikahkan usai Ramadan ini tapi dia menolak karena masih ada Rinjani, Semeru dan Bromo belum ditaklukkan,” katanya.

“Awalnya saya larang karena cuaca buruk tapi kemauannya keras sehingga saya izinkan. Seandainya saya tahu mau begini, saya akan peluk kakinya agar tidak berangkat,” kata Haji Amrullah dengan nada sedih.

Ditambahkan dia, rencananya putranya itu ingin sembilan hari melakukan pendakian. Namun, hari kelima, dia kena musibah. Informasi dari temannya, Ainul dan beberapa temannya nekad naik ke puncak sementara yang lainnya sudah capek sehingga urung ke puncak.

Lalu saat Ainul dan temannya turun dari puncak singgah di pinggir Danau Segara Anak untuk menginap. Namun, tiba-tiba gempa bumi melanda.

“Mereka terpencar selamatkan diri masing-masing cari pohon untuk berlindung tapi Ainul lari ke arah berbeda. Saat itulah dia kena batu di bagian kepalanya. Saat coba berdiri, kena lagi batu. Diperkirakan kepalanya pendarahan,” tutur Haji Amrullah seraya menambahkan, informasi terakhir jenazah putranya masih proses dievakuasi.

Keterangan Gambar Utama : Amrullah bersama foto anaknya Ainul Takzim. ©2018 Merdeka.com/Salviah Ika
Sumber Artikel : Merdeka

Bagikan
Loading...

Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Komentar

komentar