in

Pensil Alis Mengandung Merkuri, Mungkin Nggak Sih? Tanya Dokter Yuk

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) merilis daftar kosmetika ilegal yang diduga mengandung bahan berbahaya. Di antaranya adalah produk pensil alis terkenal, yang populer di kalangan make up artist (MUA).

Tidak disebutkan secara rinci kandungan apa saja yang terdapat dalam berbagai produk kosmetika ilegal tersebut. Namun Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut salah satunya adalah merkuri, yang biasanya dipakai sebagai pemutih.

“Merkuri dalam krim pemutih memang dapat menyebabkan kulit menjadi lebih putih. Karena, merkuri tersebut bekerja menghambat tirosinase yaitu suatu enzim yang membentuk pigmen atau melanin kulit,” ujar dr I Gusti Nyoman Darmaputra, SpKK, pakar kesehatan kulit dari D&I Skin Centre Denpasar, saat dihubungi detikHealth, Selasa (14/8/2018).

“Karena terjadi pengurangan produksi melanin, maka kulit akan tampak cepat terlihat putih,” tambah dokter yang akrab disapa dr Dharma ini.

Di dalam tubuh, merkuri bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Dalam jangka panjang, logam berat tersebut bisa memicu kerusakan organ tubuh.

Khusus untuk produk pensil alis, kandungan merkuri sepertinya tidak dibutuhkan karena tidak ditujukan untuk memutihkan kulit. Sebaliknya, pensil alis digunakan untuk memberikan warna tertentu. Meski demikian, dr Dharma mengingatkan kemungkinan adanya kandungan berbahaya lainnya dalam produk pensil alis ilegal.

“Bisa jadi, pensil alis tersebut mengandung logam berat lainnya yang sama bahayanya seperti merkuri, contohnya kandungan tembaga dan seng,” katanya.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dengan sigap membeberkan beberapa produk palsu pensil alis yang memang mengandung bahan berbahaya. Beberapa merek terkenal, antara lain NYX dan Mac, disebut dalam daftar tersebut.

Keterangan Gambar Utama:¬†Pensil alis menjadi perlengkapan ‘wajib’ bagi wanita yang selalu ingin tampil cantik (Foto: thinkstock)
Sumber Artikel: detikhealth

Bagikan

Comments

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading…

0

Komentar

komentar