Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kontroversi Pembebasan Sandera: Hamas Lepaskan Anak Israel, Tanpa Orang Tua

screenshot 3649

Updatebanget.id – Baru-baru ini, kelompok perlawanan Palestina, Hamas, mendapat perhatian setelah membebaskan seorang anak Israel tanpa didampingi orang tua. Remaja berusia 13 tahun bernama Hila Rotem Shoshani dibebaskan dari Gaza pada akhir pekan lalu tanpa kehadiran ibunya, Raaya Rotem.

“Hila kembali tanpa ibunya dan itu jelas melanggar kesepakatan. Kami menuntut Hamas dan mediator agar Raaya [Ibu Hila] segera dipulangkan sesuai kesepakatan,” kata paman Hila, Yair Rotem, seperti dikutip dari Times of Israel.

Yair juga menjelaskan bahwa Hila sempat menunjukkan rambutnya yang lebih pendek karena dipotong oleh ibunya selama menjadi sandera. “Jadi, mereka [Hila dan ibunya] seharusnya bersama,” ujar Hila.

Merespons pembebasan anak tanpa orang tua ini, militer Israel memberikan tanggapan. Juru bicara Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Jonathan Conricus, menuduh bahwa pemisahan ini melanggar perjanjian gencatan senjata.

Sementara itu, Hamas menyatakan tidak mengetahui keberadaan ibu Hila, menurut keterangan dari Yair. Pembebasan ini merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada 24 November.

Pembebasan anak tanpa orang tua yang disandera dianggap melanggar kesepakatan gencatan senjata, karena seharusnya anak dan orang tua dibebaskan bersama. Di sisi lain, sumber diplomatik menyebutkan bahwa 40 sandera lainnya tidak berada di tangan Hamas dalam kesempatan terpisah.

Lalu bagaimana fakta sebenarnya soal sandera di Gaza ini?

Sumber tersebut menyebutkan untuk saat ini lebih dari 40 sandera yang dibawa dari Israel ke Gaza pada 7 Oktober tak ditahan Hamas.

CNN sebelumnya melaporkan sekitar 40 hingga 50 sandera disandera oleh Jihad Islam Palestina atau kelompok atau individu lain.

Penahanan itu terjadi sebelum penyerahan sandera dimulai dan gencatan senjata diterapkan yakni pada 24 November.

Di hari itu, Hamas dan Israel resmi memberlakukan gencatan senjata empat hari mulai pukul 07.00 atau 12.00 WIB.

Di gencatan senjata kali itu, Hamas membebaskan 50 warga Israel termasuk mereka yang berkewarganegaraan ganda, 17 warga negara Thailand, dan satu warga Filipina.

Israel sementara itu, membebaskan 150 tahanan Palestina yang dipenjara di negara itu.

Pada Selasa (28/11), kedua pihak sepakat memperpanjang gencatan senjata dua hari.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed Al Ansari mengatakan kesepakatan awal soal perpanjangan jeda kemanusiaan ini adalah satu hari untuk tambahan 10 warga Israel yang dibebaskan.

Namun, dia mendapat tawaran baru dari Hamas.

“Kami mendapat konfirmasi dari Hamas bahwa 20 sandera tambahan akan dibebaskan dalam dua hari,” ujar Al Ansari, dikutip Middle East Eye.

Dia kemudian berujar, “Di sisi Palestina, itu berarti 60 warga Palestina akan dibebaskan dari penjara-penjara Israel.”

Gencatan senjata ini berlangsung usai nyaris dua bulan Israel melancarkan agresi ke Palestina.

Selama operasi, mereka menyerang warga dan objek sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Imbas gempuran Israel, lebih dari 14.800 orang di Palestina meninggal.

Share:

Arfi AS

Penulis berita bola, prediksi sepakbola paling akurat, percaya diri tulisan tentang dunia olahraganya adalah yang paling cepat dan akurat. Berita reportase juga merupakan keahlian dari Anak kelahiran KOta Soto Lamongan ini